BERITA

Pertemuan Menlu Sugiono dan Bahlil Lahadalia, DPP GMNI minta Menteri Bahlil Pertimbangkan pemberian akses Mineral Kritis kepada Amerika dalam Perjanjian tarif Resiprokal

×

Pertemuan Menlu Sugiono dan Bahlil Lahadalia, DPP GMNI minta Menteri Bahlil Pertimbangkan pemberian akses Mineral Kritis kepada Amerika dalam Perjanjian tarif Resiprokal

Sebarkan artikel ini
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Ist).

Nusatoday.id – Pertemuan Menteri Luar Negeri, Sugiono dan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia di Gedung Pancasila (5/2/2026), berdasrkan unggahan akun pridadi Menlu Sugiono membahas tentang penguatan Kerjasama antara Kemenlu dengan Kemen ESDM. Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) menyambut baik pertemuan ini dengan harapan menuju penandatangan perjanjian tarif resiprokal Indonesia dengan Amerika Serikat (AS), DPP GMNI berharap Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mempertimbangkan secara matang terkait klausul pemberian akses mineral kritis Indonesia Kepada AS dalam perjanjian tersebut. Ketua DPP GMNI Bid. Geopolitik Andreas Silalahi, mengatakan ” Pak Bahlil pernah mengatakan bahwa dirinya adalah Menteri yang anti asing, menuju penandatangan perjanjian tarif ini, kita berharap Pak Bahlil tetap dalam koridor tersebut, kita tidak ingin mineral kritis kita aksesnya jatuh begitu saja ke tangan Amerika, dalam pertemuan tersebut kita berharap Pak Bahlil dapat memberi masukan bahwa klausul pemberian akses mineral kritis kita pada AS tidan tepat sama sekali mendukung pembangunan Nasional ”

Saat ini Pemerintah tengah mempersiapkan penandatanganan Perjanjian Tarif Resiprokal (Aggrement Reciprocal Tariff/ART) dengan Amerika Serikat (AS). Perjanjian ini mencakup penghapusan tarif impor Produk AS hingga 99% dan penurunan tarif resiprokal AS untuk Produk Indonesia dari 32% menjadi 19 %, serta penghapusan hambatan non-tarif dan kesepakatan digital. Perjanjian ini sebelumnya dijadwalkan akan ditandatangani sebelum Februari 2026, namun pemerintah disinyalir sedang menjadwalkan waktu Presiden Prabowo untuk bertemu dengan Donald Trump terkait penandatanganan perjanjian tersebut.

PASANG IKLAN SAYA SEKARANG!!
Iklan Nusa Today
Iklan Nusa Today

Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) kembali mengingatkan pemerintah terkait pentingnya peninjauan ulang sebelum perjanjian ini ditandatangani, Ketua DPP GMNI Bid. Geopolitik, Andreas Silalahi mengatakan ” Sebelum Penandatanganan perjanjian tersebut kita berharap tidak ada klausul yang merugikan Indonesia secara jangka panjang, terutama Amerika dibawah Trump adalah negara yang hanya berorientasi kepada bisnis, sama sekali tidak terlihat seperti mitra strategis untuk pembangunan masa depan Indonesia ”

Dalam perjanjian Resiprokal tersebut, Amerika Serikat berkomitemen untuk memberikan pengecualian tarif bagi produk-produk ekspor unggulan Indonesia yang tidak bisa diproduksi oleh AS, seperti minyak kelapa sawit, kakao, kopi, teh, dan lainnya. Sementara, Amerika Serikat (AS) sangat berharap mendapatkan akses mineral kritis Indonesia , yaitu nikel, tembaga, bauksit, hingga logam tanah jarang (rare earth), yang memiliki peran penting dalam industri global, sebagai bagian kesepakatan tarif dagang. Ketua DPP GMNI Bid.Geopolitik GMNI mengatakan bahwa ” Mineral kritis bagi kita adalah komoditas penting sebagai modal kekuatan berbasis sumber daya alam yang berpengaruh terhadap stabilitas posisi Geopolitik Indonesia sekarang, Dengan menyetujui pemberian akses mineral kritis kepada AS, sama saja memberi ruang untuk Amerika melucuti kekuatan Geopolitik kita ”

Mineral Kritis sekarang ini sangat berpengaruh bagi aspek Global, hal tersebut yang membuat mineral kritis menjadi alat tawar yang khusunya dalam konstelasi Geopolitik Dunia saat ini, menurut IEA permintaan mineral penting ini pada tahun 2023 mengalami peningkatan sebesar 30% untuk Litium, dan Nikel, Kobalt, Grafit dan unsur tanah jarangnya mengalami peningkatan 8 % secara Global. Penggunaan mineral kritis/mineral penting terus bertambah seiring dengan perluasan penerapan Energi Bersih.

Potensi mineral kritis Indonesia juga tidak bisa dibilang sepele, Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia, menyumbang sekitar 49% dari produksi nikel global. Nikel adalah komponen kunci dalam pembuatan baterai lithium-ion yang digunakan kendaraan listrik, Sementara untuk Timah, Indonesia memiliki cadangab timah terbesar ke-2 di dunia, dengan menguasai 17% cadangan timah dunia , produksi juga terbesar ke-2 dunia, di bawah China, yang mencapai 22% produksi timah dunia. Untuk Potensi Mineral kritis yang lain seperti Litium, Badan Geologi Kementerian ESDM mengumumkan penemuan litium di Bledug Kuwu, Grobogan, Jawa Tengah, dengan potensi jumlah yang ditemukan lebih dari 1000 PPM, dan tentu masih banyak lagi seperti Tembaga dan Elemen Tanah Jarang yang masih memiliki potensi besar di Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa mineral kritis Indonesia sangat berpotensi besar dalam mengatur pasar global, GMNI berharap pemerintah juga dapat memaksimalkan peran Indonesia ditengah sorotan mata Negara-Negara besar di Dunia seperti Amerika, yang ingin menginvasi Greenland dengan tujuan mengambil mineral kritis berupa elemen tanah jarang.

DPP GMNI Bid. Geopolitik, menyatakan ” Secara kekuatan sumberdaya pemerintah harus mengoptimalisasi pengolahan mineral kritis secara mandiri kita berharap Menteri ESDM dapat menguatkan posisinya sebagai pengelola sumberdaya yang hebat ini, apalagi dengan besarnya potensi mineral kritis kita sangat berpengaruh dengan kekauatan dan posisi Geopolitik dikancah global saat ini, dalam konteks ini GMNI mendukung pengembangan potensi sumberdaya dan infrastruktur pengelolaan mineral kritis di dalam Negeri, dan tidak perlu memakai peran asing untuk mewujudakn berdikari nya pengeolaan mineral kritis Indonesia ”

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *