Nusatoday.id – Di Istanbul dan kota-kota lainnya di Turki, Ramadan dikenal dengan nuansa tradisional yang kental, dipengaruhi oleh budaya Ottoman dan Islam.
Salah satu tradisi unik adalah penabuh drum sahur (davulcu) yang berjalan keliling kota untuk membangunkan warga sebelum sahur, sebuah praktik turun-temurun.
Masjid seperti Masjid Biru menjadi pusat ibadah tarawih setiap malam, di mana jamaah berkumpul untuk doa bersama. Aksen lampu Ramadan (Ramazan lambaları) juga dipasang di antara menara masjid, menambah suasana magis saat malam hari.
Hidangan khas berbuka seperti pide Ramadan (roti bulat khas Turki) dan sup lentil sangat populer.
Setelah berbuka, sering juga diadakan acara budaya dan pertunjukan musik tradisional di alun-alun kota. Ini memperkaya pengalaman budaya selain aspek religius.
Meski praktik berpuasa sangat tinggi (sekitar 93,9 % Muslim Turki berpuasa), penekanan pada komunitas dan perayaan budaya menjadikan Ramadan Turki berbeda dari sekadar ibadah pribadi.
Banyak keluarga mengundang tetangga dan teman untuk berbuka bersama, memperkuat jaringan sosial dalam komunitas.
Perpaduan antara religiusitas dan budaya lokal membuat Ramadan di Turki menjadi pengalaman yang menyenangkan dan mendalam.

















