Nusatoday.id – Wilayah Provence di selatan Prancis menghadirkan pengalaman kuliner yang sangat khas berkat kekayaan herba aromatik, minyak zaitun berkualitas tinggi, dan hasil laut Mediterania yang segar.
Tahun 2026 menjadi momentum kebangkitan wisata gastronomi berbasis terroir, di mana pengunjung tidak hanya mencicipi hidangan, tetapi juga memahami asal-usul bahan dan tradisi memasaknya. Kota-kota seperti Aix-en-Provence dan Avignon menjadi titik awal ideal untuk menjelajahi rasa autentik kawasan ini.
Pasar tradisional pagi hari dipenuhi warna-warni sayuran, lavender kering, bawang putih, dan aneka keju artisan. Aroma thyme, rosemary, dan basil segar langsung menyambut siapa pun yang melangkah di antara kios-kios lokal. Interaksi dengan petani dan produsen kecil memberikan wawasan tentang bagaimana bahan-bahan sederhana dapat diolah menjadi hidangan penuh karakter.
Salah satu hidangan paling ikonik adalah bouillabaisse, sup ikan khas Marseille yang dimasak perlahan dengan saffron dan herba Provence. Hidangan ini mencerminkan kedekatan masyarakat dengan laut dan tradisi nelayan setempat. Setiap restoran memiliki resep turun-temurun yang memberikan sentuhan rasa berbeda, namun tetap mempertahankan esensi klasiknya.
Ratatouille juga menjadi simbol kesederhanaan elegan kuliner Provence. Kombinasi terong, zucchini, tomat, dan paprika yang dimasak perlahan menghadirkan harmoni rasa yang lembut dan kaya. Hidangan ini sering disajikan bersama roti rustic hangat dan minyak zaitun lokal yang memperkuat karakter Mediterania.
Selain hidangan utama, Provence terkenal dengan keju kambing segar yang dipadukan dengan madu atau selai ara. Wine rosé dari Côtes de Provence menjadi pasangan sempurna untuk makan siang santai di teras terbuka dengan pemandangan kebun anggur. Pengalaman ini mencerminkan gaya hidup santai namun berkelas khas selatan Prancis.
Restoran modern di kawasan ini juga mulai menggabungkan teknik kontemporer dengan resep tradisional. Chef muda menghadirkan interpretasi baru dari hidangan klasik, tetap menghormati akar budaya namun berani berinovasi dalam presentasi dan teknik. Tren farm-to-table semakin kuat, mempertegas komitmen terhadap keberlanjutan.
Provence pada 2026 menjadi destinasi ideal bagi pencinta kuliner yang mencari rasa alami, autentik, dan penuh karakter. Setiap santapan terasa seperti perayaan musim, alam, dan tradisi yang telah mengakar selama berabad-abad.



















