Jakarta – Founder Nusa Ina Connection (NIC), Abdullah Kelrey, membuat dinamika menuju Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 mulai memperlihatkan munculnya figur-figur yang dinilai memiliki peluang kuat memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada periode mendatang. Dua nama yang kerap disebut dalam perbincangan publik adalah Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar.
Saifullah Yusuf dikenal sebagai tokoh NU berlatar kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan pengalaman panjang di pemerintahan maupun struktur organisasi. Rekam jejaknya sebagai pejabat publik serta keterlibatan aktif dalam dinamika internal NU dinilai menjadi modal penting dalam kontestasi kepemimpinan ke depan.
Sementara itu, Nasaruddin Umar dipandang sebagai representasi ulama-intelektual dari kalangan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Kapasitas keilmuan, pengalaman birokrasi keagamaan, serta posisi strategisnya sebagai Menteri Agama menjadikan namanya semakin diperhitungkan dalam wacana suksesi kepemimpinan PBNU.
Kelrey menambahkan bahwa menguatnya dua figur tersebut mencerminkan pertemuan antara kekuatan struktural-politik dan legitimasi moral-keagamaan di tubuh NU. Menurutnya, siapa pun yang nantinya memimpin PBNU harus mampu menjaga independensi organisasi sekaligus memperkuat peran NU sebagai penyangga moral bangsa.
“NU membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga memiliki visi kebangsaan dan kemampuan merawat persatuan umat di tengah dinamika politik nasional,” ujar Kelrey.
Ia menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di forum muktamar di Makassar Sulawesi Selatan tahun ini sebagai mekanisme demokratis tertinggi dalam tradisi NU. Namun, perkembangan dukungan terhadap figur-figur potensial akan terus menjadi perhatian publik hingga momentum pemilihan resmi digelar.



















