Nusatoday.id – Harga minyak dunia mencatat penurunan terdalam dalam hampir enam tahun terakhir, sementara bursa saham global melonjak tajam setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu. Keputusan ini memberikan kelegaan besar bagi pasar yang sebelumnya tertekan oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat merosot hingga sekitar 19% setelah Presiden Donald Trumpmenyatakan akan menangguhkan serangan terhadap Iran. Penurunan ini terjadi karena pasar melihat adanya peluang kembalinya kelancaran pasokan minyak global, terutama setelah Iran mengindikasikan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz akan dibuka kembali selama periode gencatan senjata. Selat tersebut merupakan jalur penting bagi distribusi minyak dunia, sehingga stabilitas di kawasan itu sangat memengaruhi harga energi global.
Meredanya ketegangan langsung memicu lonjakan di pasar saham. Indeks saham Asia seperti MSCI Asia Pacific Indexnaik signifikan, sementara kontrak berjangka S&P 500 juga mencatat kenaikan tajam. Para investor kembali masuk ke aset berisiko karena melihat peluang bahwa penurunan harga energi dapat membantu menekan inflasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi global.
Di sisi lain, dolar AS yang sebelumnya menguat sebagai aset aman justru melemah. Ketika ketidakpastian mereda, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih berisiko, sehingga permintaan terhadap dolar menurun. Hal ini diikuti dengan penguatan mata uang lain seperti euro dan yen. Pasar obligasi juga menunjukkan penguatan, tercermin dari turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, yang mengindikasikan meningkatnya minat investor terhadap instrumen yang lebih stabil.
Dalam pernyataannya, Donald Trump menyebut bahwa penangguhan serangan bergantung pada komitmen Iran untuk membuka Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchimenyatakan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan angkatan bersenjata untuk memastikan keamanan jalur pelayaran tersebut, meskipun tetap mempertimbangkan berbagai batasan teknis.
Kesepakatan ini menjadi titik balik sementara bagi sentimen pasar global yang sebelumnya diliputi kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dan potensi lonjakan inflasi. Namun demikian, para analis mengingatkan bahwa ketidakpastian masih membayangi karena detail kesepakatan belum sepenuhnya diungkap, serta belum ada kejelasan mengenai bagaimana konflik ini akan berakhir. Oleh karena itu, meskipun pasar merespons positif dalam jangka pendek, potensi volatilitas tetap tinggi apabila situasi kembali memanas.

















































