Nusatoday.id – Serie A sempat mengalami penurunan koefisien UEFA pada periode 2010–2018, namun sejak 2020 grafiknya kembali menanjak. Dalam tiga musim terakhir, klub Italia tampil di final Liga Champions, Liga Europa, dan Conference League secara bersamaan, sebuah capaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Inter Milan mencapai final Liga Champions 2023 dengan rasio expected goals against terendah di kompetisi, hanya 0,78 per laga. AC Milan kembali ke semifinal pada 2022 setelah absen 15 tahun dari fase tersebut, menunjukkan kebangkitan struktural sepak bola Italia.
AS Roma menjuarai Conference League 2022 dan melaju ke final Liga Europa 2023 dengan rekor pertahanan terbaik. Statistik menunjukkan Roma hanya kebobolan rata-rata 0,6 gol per pertandingan di kompetisi Eropa selama dua musim berturut-turut.
Napoli menjadi representasi kekuatan menyerang Serie A, dengan torehan 28 gol di Liga Champions 2023/2024, tertinggi di antara seluruh peserta. Victor Osimhen dan Khvicha Kvaratskhelia menjadi simbol regenerasi yang efektif.
Secara finansial, pendapatan klub-klub Italia meningkat rata-rata 18 persen pasca-reformasi hak siar domestik. Inter dan Milan kembali masuk 15 besar klub dengan nilai komersial tertinggi di Eropa.
Pendekatan taktik juga berubah. Pelatih-pelatih Italia kini mengombinasikan blok pertahanan rendah dengan transisi cepat dan pressing situasional. Data menunjukkan peningkatan intensitas lari hingga 12 persen dibanding era 2010-an.
Dengan fondasi ekonomi yang membaik, regenerasi pemain, dan fleksibilitas taktik, Serie A kembali menjadi kekuatan kompetitif yang diperhitungkan di Eropa, bukan sekadar nostalgia kejayaan masa lalu.










