Nusatoday.id – Sebuah laporan baru dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) memperingatkan bahwa hilangnya keanekaragaman hayati menjadi risiko sistemik bagi ekonomi global dan rantai pasok bisnis.
Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa setiap bisnis, dari industri energi hingga agrikultur, sangat tergantung pada fungsi alam seperti pasokan air, bahan baku, dan stabilitas iklim. Namun, kerusakan alam yang terus berlangsung dapat mengancam produktivitas dan stabilitas finansial perusahaan di banyak sektor.
Para ahli global menyatakan bahwa praktik bisnis yang tidak mempertimbangkan dampak lingkungan dalam pengambilan keputusan jangka panjang justru mempercepat degradasi alam, mengubah risiko ekologis menjadi risiko ekonomi nyata.
Laporan ini juga mencatat bahwa aliran modal publik dan swasta secara keseluruhan masih mendukung kegiatan yang merusak alam lebih banyak daripada yang mendanai konservasi — bahkan mencapai angka triliunan dolar dalam arus investasi yang negatif terhadap ekosistem.
Sebagai respons, lembaga internasional dan pembuat kebijakan menekankan kebutuhan mendesak akan mekanisme investasi yang menggabungkan nilai finansial dan perlindungan lingkungan, agar bisnis dapat beradaptasi sekaligus membantu memulihkan alam.













