Nusatoday.id – Dalam beberapa tahun terakhir, belanja daring atau e-commerce secara global telah mengalami pertumbuhan pesat, namun di sisi lain aktivitas penipuan juga meningkat signifikan. Menurut data industri, berbagai tren penipuan online yang baru terus muncul, termasuk layanan “fraud as a service” yang mempermudah pelaku jahat melakukan penipuan secara skala besar pada tahun-tahun terakhir.
Insiden remote purchase fraud di Inggris misalnya, menunjukkan lonjakan besar pada 2024, di mana hampir 2,6 juta kasus dilaporkan—sebuah kenaikan sekitar 12% dibanding tahun sebelumnya—akibat taktik phishing yang semakin canggih.
Di AS, platform raksasa belanja online seperti Amazon juga mengeluarkan peringatan keamanan kepada ratusan juta penggunanya terkait account takeover fraud, di mana akun pelanggan dibajak untuk melakukan pembelian tanpa izin.
Fenomena ini memicu dorongan kuat dari regulator dan penyedia platform untuk meningkatkan sistem keamanan, termasuk otentikasi dua faktor dan peningkatan teknologi deteksi penipuan real-time. Teknologi keamanan pembayaran terus diperbarui sebagai respons terhadap ancaman yang terus berevolusi setiap tahun.
Dengan meningkatnya volume transaksi digital sejak 2020, para analis memperkirakan bahwa penipuan online tetap menjadi tantangan utama bagi perlindungan konsumen global hingga 2025 dan seterusnya, sehingga belanja daring yang aman memerlukan pemahaman dan strategi perlindungan data yang lebih tinggi.


















