Nusatoday.id – Macet total bukan sekadar soal kendaraan menumpuk. Ini soal manajemen kota, kebijakan transportasi, hingga disiplin publik. Di kota-kota besar seperti Jakarta, fenomena macet total sudah menjadi “ritual harian” yang menggerus produktivitas dan emosi warga.
Data berbagai lembaga transportasi menunjukkan kemacetan berdampak langsung pada kerugian ekonomi miliaran rupiah per hari dari BBM terbuang, waktu kerja hilang, hingga meningkatnya polusi udara. Ketika arus kendaraan berhenti total, itu bukan lagi soal padat, tapi tanda sistem tidak berjalan optimal.
Arus balik libur panjang akhir Oktober bikin Tol Cipularang lumpuh total, Selasa (28/10). Antrean kendaraan dari arah Bandung menuju Jakarta mengular hingga 6 kilometer, tepatnya di sekitar KM 95 hingga KM 101.
Petugas PJR menyebutkan, volume kendaraan meningkat hingga 40 persen dibandingkan hari biasa. Titik paling padat terjadi di kawasan rest area dan tanjakan Cikamuning.
“Mayoritas kendaraan pribadi dari arah Lembang dan Ciwidey menuju Jakarta. Banyak yang berhenti di rest area, jadi arus tersendat,” ujar petugas di lokasi.
Pihak Jasa Marga mengimbau pengguna jalan agar mengatur waktu keberangkatan dan memanfaatkan fitur pantauan lalu lintas di aplikasi resmi.
























