BERITA

Bedah Buku 100 Tahun Ahmadiyah di Ciputat, MUDA Soroti Penguatan Anak Muda dan Perlawanan atas Stigma

×

Bedah Buku 100 Tahun Ahmadiyah di Ciputat, MUDA Soroti Penguatan Anak Muda dan Perlawanan atas Stigma

Sebarkan artikel ini

Nusatoday.id – Diskusi dan bedah buku “Muslim Ahmadiyah dan Indonesia, 100 Tahun Keberagamaan dan Kerja Kemanusiaan” digelar pada Jumat, 13 Februari 2026, pukul 15.30–17.30 WIB di Gerak Gerik Coffee. Kegiatan yang dihadiri sekitar 30 peserta dari berbagai komunitas dan latar belakang di Tangsel dan sekitarnya ini menjadi ruang dialog terbuka untuk membicarakan sejarah, stigma, dan masa depan kebebasan beragama di Indonesia.

Hadir sebagai narasumber Achmad Fanani Rosyidi (Koordinator Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia/MUDA), Muhammad Ghifari Misbahuddin (Pemuda Ahmadiyah), dan Barqy Nafsin Kaida (Yayasan Inklusif). Diskusi dipandu Ibnu selaku Ketua Umum HMI Komfisip Ciputat, dengan penanggap tamu Dedy Ibmar yang juga editor buku tersebut.

PASANG IKLAN SAYA SEKARANG!!
Iklan Nusa Today
Iklan Nusa Today

MUDA: Anak Muda Harus Turun ke Akar Rumput

Dalam paparannya, Achmad Fanani Rosyidi menekankan pentingnya reposisi gerakan anak muda agar lebih dekat dengan persoalan riil masyarakat. Ia memperkenalkan MUDA sebagai komunitas yang lahir pada 2024 di tengah kegelisahan atas praktik-praktik ketidakadilan politik, termasuk polemik perubahan aturan Mahkamah Konstitusi yang dinilai sarat kepentingan kekuasaan.

“MUDA lahir dari kegelisahan bahwa gerakan anak muda hari ini cenderung elitis dan jauh dari problem akar rumput. Kami ingin mengembalikan orientasi gerakan pada penguatan masyarakat sipil dan sektoral gerakan rakyat,” ujarnya.

Menurut Fanani, isu Ahmadiyah bukan semata persoalan teologi, melainkan juga persoalan hak asasi manusia dan kualitas demokrasi. Ia mengaku telah bersentuhan dengan komunitas Ahmadiyah sejak 2010 ketika mendampingi korban pelanggaran HAM. Dari pengalaman itu, ia melihat konsistensi perjuangan nirkekerasan yang dijalankan komunitas tersebut.

Ia juga mengutip temuan SETARA Institute yang mencatat adanya puluhan regulasi diskriminatif dan ratusan peristiwa kekerasan terhadap Ahmadiyah dalam dua dekade terakhir. “Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya stigma sosial, tapi juga problem kebijakan,” tegasnya.

Fanani merekomendasikan buku ini sebagai bacaan penting bagi anak muda, khususnya di Ciputat, untuk menjawab kesenjangan informasi yang selama ini diisi oleh rumor dan disinformasi. Ia menilai buku tersebut dapat menjadi titik balik bagi Ahmadiyah untuk lebih aktif mewarnai diskursus keislaman, kebangsaan, dan keindonesiaan.

“Selama ini Ahmadiyah lebih sering menjadi objek pembicaraan, bukan subjek yang mewarnai diskursus. Buku ini membuka ruang baru agar narasi tentang Islam dan Indonesia lebih inklusif,” tambahnya.

*Sejarah Panjang dan Dinamika Politik*

Sementara itu, Muhammad Ghifari Misbahuddin menjelaskan bahwa buku ini diterbitkan dalam rangka 100 tahun kehadiran Ahmadiyah di Indonesia dan ditulis oleh para tokoh non-Ahmadi dengan berbagai perspektif.

Ia mengisahkan bahwa masuknya Ahmadiyah ke Hindia Belanda pada 1920-an justru atas permintaan tokoh-tokoh Pemuda Thawalib dari Sumatera. Pada 1930-an, Ahmadiyah juga meletakkan fondasi awal penerjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Indonesia, yang kala itu belum lazim dilakukan.

Ghifari turut menyinggung kedekatan historis Ahmadiyah dengan Presiden pertama RI, Soekarno, termasuk rekomendasi lokasi beberapa masjid Ahmadiyah pada masa awal kemerdekaan. Ia juga menyebut nama W. R. Supratman sebagai salah satu tokoh yang memiliki jejak sejarah dengan komunitas ini.

Pada era Soeharto, fatwa MUI pertama tentang Ahmadiyah terbit pada 1985. Ghifari menilai situasi relatif terkendali pada masa itu. Namun, setelah reformasi dan keluarnya fatwa kedua pada 2005, kekerasan dan diskriminasi meningkat, termasuk tragedi Cikeusik pada 2011 yang menewaskan tiga anggota Ahmadiyah.

Membuka Ruang Refleksi

Barqy Nafsin Kaida dari Yayasan Inklusif menyampaikan refleksinya setelah membaca buku tersebut. Ia mengaku sebelumnya awam terhadap Ahmadiyah, namun pengalaman berinteraksi langsung dengan komunitas Ahmadiyah di Depok mengubah persepsinya.

“Yang saya temui adalah praktik keberagamaan yang secara sosial tidak berbeda dari Muslim pada umumnya. Saya tidak sepakat jika langsung distigma bukan Islam atau sesat tanpa dialog,” ujarnya.

Ia menilai buku ini kuat sebagai rekognisi moral dan proyek historis satu abad Ahmadiyah di Indonesia, terutama dalam kerja-kerja kemanusiaan dan keshalehan sosial. Meski demikian, ia juga mencatat bahwa pembahasan teologis dalam buku tersebut belum terlalu mendalam.

Diskusi berlangsung hangat dan kritis. Para peserta aktif bertanya dan menyampaikan pandangan, menunjukkan bahwa isu kebebasan beragama dan posisi Ahmadiyah dalam kehidupan berbangsa masih relevan untuk terus didialogkan.

Melalui forum ini, MUDA dan para narasumber berharap ruang-ruang diskusi seperti ini dapat menjadi langkah kecil namun berarti dalam memperkuat demokrasi, merawat kebinekaan, serta mendorong anak muda untuk terlibat langsung dalam perjuangan keadilan sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *