Nusatoday.id – Kasus narkoba yang menjerat aktor sinetron Ammar Zoni kembali menyulut perdebatan publik. Di satu sisi, publik melihatnya sebagai persoalan personal jerat adiksi dan kesalahan individu. Namun di sisi lain, kasus ini membuka pertanyaan lebih besar: seberapa dalam bisnis narkoba bekerja di balik layar, dan apakah penegakan hukum benar-benar menyentuh akar persoalan?
Direktur ETOS Institute, Iskandarsyah, dalam sejumlah diskusi publik menegaskan bahwa kasus figur publik kerap menjadi “puncak gunung es”. Yang tampak di permukaan hanyalah pengguna atau kurir kecil, sementara jaringan besar, pemasok utama, dan aktor intelektual bisnis narkotika sering kali luput dari sorotan. Dalam konteks ini, kasus Ammar Zoni bukan sekadar drama selebritas, melainkan cermin dari sistem pemberantasan narkoba yang masih menyisakan banyak celah.
Indonesia selama ini menghadapi ancaman serius peredaran narkotika lintas negara. Jaringan internasional memanfaatkan celah pengawasan pelabuhan, bandar udara, hingga jalur laut. Ketika figur publik tertangkap, perhatian publik tersedot pada sensasi padahal yang jauh lebih mendesak adalah membongkar mata rantai distribusi dan aliran dananya. Apakah ada sindikat besar di belakangnya? Siapa pemasok utama? Bagaimana pola distribusinya? Ujar Iskandarsyah, saat berbincang santai di salah satu Restoran Jakarta Timur, Sabtu, (21/02/2026).
Kasus Ammar Zoni juga memperlihatkan dilema antara pendekatan hukum dan pendekatan rehabilitasi. Undang-undang memberi ruang bagi pengguna untuk direhabilitasi, namun publik sering kali lebih tertarik pada aspek hukuman. Di sinilah pentingnya transparansi aparat penegak hukum agar tidak muncul kesan tebang pilih atau sekadar menjadikan figur publik sebagai “contoh kasus” tanpa memburu aktor besar di balik jaringan.
Iskandarsyah menilai, bila penegakan hukum berhenti pada level pengguna, maka bisnis narkoba akan terus berputar. Permintaan dan suplai tetap berjalan. Bandar besar tetap aman. Uang haram terus mengalir. Dalam banyak kasus global, bisnis narkotika selalu terkait dengan pencucian uang, korupsi, bahkan perlindungan oknum aparat. Karena itu, pembongkaran jaringan harus menyentuh aspek finansial menelusuri transaksi mencurigakan dan membekukan aset.
Publik kini menunggu, apakah kasus Ammar Zoni akan menjadi pintu masuk membongkar jaringan lebih luas atau sekadar headline sementara. Momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi antara kepolisian, BNN, PPATK, dan lembaga peradilan dalam memburu aktor intelektual dan bandar besar.
Pada akhirnya, perang melawan narkoba bukan soal menangkap satu atau dua selebritas. Ini soal keberanian membongkar sistem bisnis gelap yang terorganisir. Jika tidak, kasus demi kasus akan terus berulang, nama-nama baru akan muncul, dan publik hanya disuguhi sensasi tanpa perubahan substantif.
Selengkapnya Nonton Via Channel YouTube Walang Bacarita :

















