BUSINESS

Ketika Keuntungan Korporasi Membesar, Rakyat Menanggung Beban

×

Ketika Keuntungan Korporasi Membesar, Rakyat Menanggung Beban

Sebarkan artikel ini
Bisnis AI 2026
Ilustrasi AI (Canva).

Nusatoday.id – Analisis bisnis global 2026 yang merugikan rakyat bukan sekadar daftar poin, ini adalah gambaran nyata tentang bagaimana praktik-praktik usaha besar dan tren ekonomi dunia saat ini menghasilkan biaya sosial dan beban nyata kepada masyarakat luas, bukan hanya kepada investor atau pemilik modal.

Dalam lanskap global 2026, banyak dinamika yang mencerminkan bahwa keuntungan korporasi besar sering kali datang dengan dampak merugikan bagi kelompok masyarakat lemah, pekerja berpenghasilan rendah, konsumen rentan, dan negara berkembang. Secara keseluruhan, ketimpangan struktur ekonomi dan tekanan dari model bisnis tertentu menciptakan realitas di mana pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti kesejahteraan untuk semua.

Salah satu faktor yang sangat menonjol adalah peningkatan ketergantungan bisnis besar pada teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI). AI memang memicu produktivitas dan inovasi di berbagai sektor, namun di sisi lain kapasitas teknologi ini terkonsentrasi di beberapa negara dan perusahaan besar saja, menciptakan jurang digital dan ekonomi yang makin lebar antara negara maju dan negara berkembang. Akibatnya, meski sektor bisnis tertentu tumbuh pesat, lapangan kerja tradisional terus tertekan, kemampuan masyarakat miskin untuk bersaing di pasar tenaga kerja menurun, dan akses terhadap peluang ekonomi tidak merata.

Fenomena serupa juga terlihat dalam model bisnis ultrafast fashion yang dipelopori perusahaan-perusahaan besar. Model ini memang menawarkan harga murah bagi konsumen, tetapi keuntungan jangka pendek tersebut menyembunyikan sejumlah dampak sosial dan etika yang serius: praktik rantai pasok yang sering kali memicu kekhawatiran tentang kondisi kerja layak atau bahkan dugaan penggunaan tenaga kerja paksa di beberapa bagian produksi. Selain itu, model bisnis seperti ini rentan mengabaikan standar keselamatan produk, memicu kritik keras dari otoritas Uni Eropa yang menyoroti konten barang ilegal dan transparansi algoritma dalam perdagangan daring.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, berbagai laporan internasional menggarisbawahi bahwa ketidaksetaraan pendapatan dan kekayaan tetap menjadi isu yang sangat tajam pada 2026. Ketimpangan ini bukan hanya istilah statistik; itu berarti bahwa rumah tangga berpendapatan rendah dan masyarakat miskin secara nyata membayar lebih banyak untuk kebutuhan dasar, menghadapi biaya hidup yang lebih tinggi, dan kehilangan peluang ekonomi yang lebih baik dibandingkan kelompok elit yang menikmati hasil utama dari pertumbuhan pasar global. Survei terhadap kepercayaan masyarakat menunjukkan jelas perbedaan pandangan antara kelas berpenghasilan tinggi dan rendah mengenai etika bisnis, peran institusi, dan manfaat ekonomi yang dirasakan.

Dampak lain yang sering kurang disorot adalah bagaimana teknologi dan algoritma bisnis dapat memperkuat bias sosial yang ada dan merugikan kelompok tertentu dalam skala luas. Kasus-kasus di mana alat AI yang digunakan dalam rekrutmen atau layanan keuangan menunjukkan kecenderungan diskriminatif terhadap kelompok minoritas, perempuan, atau nama-nama tertentu memperlihatkan bahwa tanpa pengawasan yang kuat, teknologi yang digembar-gemborkan sebagai “netral” justru memperdalam ketidakadilan sosial.

Secara keseluruhan, gambaran bisnis global pada 2026 memperlihatkan kontradiksi tajam antara keuntungan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Banyak model bisnis yang memaksimalkan efisiensi dan keuntungan diukur lewat angka pertumbuhan GDP atau laba korporasi, namun pada saat yang sama biaya sosialnya ditanggung oleh masyarakat — lewat lapangan kerja yang tergerus teknologi tanpa dukungan sosial yang memadai, merosotnya daya beli kelompok marginal, serta peningkatan ketergantungan pada model konsumsi murah yang tidak berkelanjutan.

Ini bukan sekadar prediksi; banyak tanda-tanda tersebut sudah mulai terlihat nyata dalam pola perkembangan pasar, respons pemerintah, dan resistensi masyarakat terhadap praktik bisnis besar yang dianggap tidak adil. Jika tren ini tidak diimbangi dengan kebijakan perlindungan sosial dan peraturan yang adil, pertumbuhan bisnis global pada 2026 dipastikan akan tetap menghasilkan kerugian sosial yang signifikan, bukan hanya keuntungan ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *