Nusatoday.id – Masyarakat Dayak melalui Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) menyampaikan sejumlah aspirasi kepada Presiden Republik Indonesia dan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) terkait pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Salah satu poin yang mengemuka dan menjadi sorotan utama adalah penghilangan salam falsafah Dayak di pintu masuk kawasan OIKN. Salam tersebut berbunyi:
“Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata.”
Ketua Koordinator Lapangan Pakomoan Dayak Menggugat, Sisilius Rami, menegaskan bahwa yang menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat Dayak bukan sekadar soal jabatan, tetapi menyangkut makna filosofis dan penghormatan identitas.
“Yang menjadi pertanyaan kami adalah mengapa salam falsafah Dayak yang selama ini berdiri di pintu masuk OIKN justru dihilangkan. ‘Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata’ bukan sekadar kalimat, tetapi nilai hidup yang sejalan dengan semangat kebangsaan,” ujar Sisilius.
Ia menilai penghilangan salam tersebut menimbulkan tanda tanya serius di tengah masyarakat adat.
“Kalimat itu mengajarkan keadilan terhadap sesama manusia, bercermin pada nilai-nilai ketuhanan, dan hidup berlandaskan iman. Jika simbol ini dihapus dari ruang representatif IKN, maka publik berhak bertanya, apakah identitas lokal sedang dipinggirkan dalam proyek nasional ini?” tegasnya.
Menurutnya, IKN dibangun di atas tanah Kalimantan yang secara historis dan sosiologis merupakan ruang hidup masyarakat Dayak. Karena itu, simbol-simbol kearifan lokal seharusnya diperkuat, bukan justru dihilangkan.
Masyarakat Dayak meminta OIKN memberikan penjelasan terbuka terkait penghilangan salam tersebut serta memastikan bahwa nilai-nilai kearifan lokal tetap menjadi bagian integral dari wajah Ibu Kota Nusantara ke depan.















