Calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto (kiri) bersama Gibran Rakabuming Raka (kanan) bersiap mengikuti rapat pleno terbuka penetapan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih Pemilu 2024 di depan Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Rabu (24/4/2024). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar).
Oleh: Abdullah Kelrey | Founder Nusa Ina Connection (NIC)
Nusatoday.id – Jika seseorang ingin mengetahui kondisi ekonomi Indonesia hari ini, sebenarnya tidak perlu membaca laporan panjang pemerintah atau mendengar pidato pejabat yang penuh angka. Cukup datang ke warung kopi, warteg, atau pangkalan ojek online. Di tempat-tempat sederhana itulah laporan ekonomi paling jujur tersedia setiap hari. Tidak ada grafik, tidak ada statistik, tetapi ada keluhan yang terdengar berulang-ulang dari rakyat kecil. Selama hampir satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, kalimat yang paling sering terdengar sangat sederhana namun sarat makna: mencari uang terasa semakin sulit.
Keluhan itu tidak datang dari satu kelompok saja. Pedagang kecil pinggir jalan mulai mengeluh dagangan mereka tidak lagi seramai dulu. Tukang es keliling mengaku semakin sering pulang dengan termos yang masih setengah penuh. Pemilik warteg mulai menghitung ulang jumlah nasi yang dimasak setiap hari karena pelanggan semakin jarang datang. Pedagang nasi, penjual gorengan, hingga pemilik warung kecil yang menggantungkan hidup pada pembeli harian merasakan tekanan yang sama. Mereka tidak berbicara tentang teori ekonomi atau kebijakan fiskal. Mereka hanya tahu satu hal yang paling nyata dalam kehidupan mereka: pemasukan tidak lagi sebanding dengan pengeluaran.
Keluhan serupa juga datang dari para pengemudi transportasi online. Para sopir mobil dan motor berbasis aplikasi yang dulu berharap teknologi akan membuka jalan rezeki baru kini justru sering duduk berlama-lama menunggu pesanan yang tidak kunjung datang. Mereka bekerja lebih lama dari sebelumnya, namun pendapatan tidak banyak berubah. Bahkan sebagian dari mereka mulai mengaku bahwa biaya hidup semakin berat karena harga kebutuhan pokok perlahan naik. Kondisi ini semakin terasa ketika nilai tukar rupiah sempat melemah hingga mendekati Rp17.000 per dolar Amerika pada awal 2026. Bagi para ekonom, angka itu mungkin sekadar dinamika pasar global. Namun bagi rakyat kecil, pelemahan rupiah berarti harga barang ikut naik, biaya hidup meningkat, sementara penghasilan tetap di tempat.
Yang lebih menarik justru terjadi pada kelompok yang selama ini dikenal sebagai penyambung lidah rakyat, yaitu kaum intelektual. Aktivis pelajar, aktivis mahasiswa, dan berbagai organisasi yang dulu identik dengan gerakan sosial tampak semakin jarang terdengar gaungnya. Diskusi tetap ada, kritik tetap muncul di media sosial, namun energi untuk bergerak secara nyata terlihat semakin berkurang. Fenomena ini terasa agak lucu sekaligus ironis. Banyak dari mereka mengeluh tentang kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah, tetapi pada saat yang sama mereka juga tampak kesulitan menyatukan kekuatan untuk bergerak bersama.
Di berbagai tongkrongan mahasiswa sering terdengar istilah yang menarik : ngak enak, kita tunggu perintah kanda, senior, ayahanda, dan don saja. Istilah-istilah itu menggambarkan hubungan hierarkis yang kadang membuat gerakan sosial kehilangan daya kritisnya. Sebagian aktivis akhirnya lebih sibuk menjaga relasi daripada menjaga idealisme. Dalam banyak kasus, energi yang seharusnya digunakan untuk mengorganisir gerakan sosial justru habis untuk kegiatan internal organisasi, program kecil, atau sekadar diskusi yang berputar-putar tanpa arah.
Namun ada fenomena lain yang jauh lebih menarik dan mungkin lebih menentukan dari semua faktor tersebut. Fenomena itu adalah menjamurnya game online dan judi online yang kini menguasai hampir setiap sudut kehidupan digital masyarakat. Jika dulu kemarahan sosial sering berujung pada demonstrasi di jalan, kini kemarahan itu seolah dialihkan ke dunia virtual. Orang-orang yang frustrasi dengan kondisi ekonomi tidak lagi berkumpul untuk menyusun aksi protes, melainkan berkumpul di server permainan online atau di ruang-ruang taruhan digital.
Di banyak warung kopi, pemandangan yang terlihat bukan lagi diskusi panjang tentang politik atau strategi gerakan sosial, melainkan orang-orang yang sibuk menatap layar ponsel mereka. Ada yang fokus menaikkan level karakter permainan, ada yang menunggu kemenangan dalam taruhan online. Dunia digital perlahan menjadi ruang pelarian dari kenyataan ekonomi yang semakin berat. Rakyat tetap mengeluh tentang sulitnya hidup, tetapi pada saat yang sama mereka menemukan cara baru untuk melupakan keluhan tersebut.
Di sinilah ironi besar zaman ini muncul. Kelompok masyarakat yang sebenarnya memiliki keluhan yang sama rakyat kecil, pekerja informal, hingga kaum intelektual tidak pernah benar-benar bersatu dalam satu gerakan besar. Mereka memiliki masalah yang hampir identik, namun energi sosial mereka terpecah dalam berbagai aktivitas yang tidak berkaitan dengan perubahan sosial. Bahkan dalam banyak kasus, mereka justru bersatu dalam aktivitas yang sama sekali tidak produktif bagi masa depan mereka.
Dari sudut pandang ini, muncul kesimpulan yang mungkin terdengar hiperbolik tetapi terasa semakin masuk akal. Pemerintahan Prabowo–Gibran pada periode awal ini tampaknya justru terselamatkan oleh fenomena game online dan judi online. Bukan karena kondisi ekonomi benar-benar stabil atau karena rakyat sepenuhnya puas dengan kebijakan pemerintah. Melainkan karena energi sosial masyarakat yang seharusnya menjadi kekuatan kritik telah terserap oleh dunia digital yang menawarkan hiburan instan dan harapan kemenangan cepat.
Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan munculnya aksi besar seperti yang terjadi pada era Reformasi 1998 tampak semakin kecil. Bukan karena masalah sosial telah selesai, melainkan karena masyarakat menemukan cara baru untuk menenangkan diri tanpa harus melawan. Kemarahan sosial tidak lagi berubah menjadi gerakan politik, tetapi berubah menjadi waktu yang dihabiskan berjam-jam di depan layar ponsel.
Namun sejarah selalu memiliki cara untuk bergerak secara tak terduga. Jika kondisi ekonomi terus melemah, jika harga kebutuhan pokok semakin menekan rakyat kecil, dan jika kesempatan kerja semakin terbatas, maka suatu saat nanti bisa saja muncul generasi yang kembali memilih jalan berbeda. Generasi yang tidak lagi puas dengan hiburan digital atau kemenangan virtual, melainkan ingin melihat perubahan nyata dalam kehidupan mereka.
Untuk sementara, situasinya masih terlihat relatif tenang. Rakyat mengeluh, tetapi tidak bergerak. Aktivis mengkritik, tetapi tidak bersatu. Energi sosial masyarakat lebih banyak terserap oleh dunia hiburan digital yang membuat realitas terasa sedikit lebih ringan.
Karena itu, dengan nada yang sedikit sarkastik, saya hanya bisa mengatakan satu hal: selamat kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Bukan karena semua persoalan telah selesai, tetapi karena dalam situasi seperti sekarang ini, game online dan judi online tampaknya menjadi “penjaga stabilitas sosial” paling efektif yang pernah ada di republik ini.






